Lantas…!.
Apakah seseorang yang marah menyukai perilaku marah yang dibuatnya?.
Jawabnya: Tak seorangpun yang menyukainya…! Itulah sebabnya, ketika
istriku usai marah, ia kerap berkata: “Mama tidak pernah marah”.
Simpulannya: Aksi marahnya, sesungguhnya ia sesali. Lalu dapatkah
seorang istri/wanita menghindari kemarahan?. Relatif jawabannya.
Pastinya, marah itu ‘tenaga besar’ membutuhkan sikon fisik dan psikis.
Apa jadinya jika amarah itu tidak diakomodir?. Tanyalah istri Anda!
Biarkan!
Matanya melotot, rambutnya seolah hendak
berdiri helai per helai, bak kesetrom listrik, wajah memerah, tangan
dikepal-kepal, berjalan ke sana ke mari, gemetaran, nafas
tersengal-sengal, bibirnya sedang dimainkannya, tiada ketenangan fisik.
Itu ciri istimewa ketika seseorang sedang marah, termasuk istri/wanita.
Biarkan saja ia tuntaskan luapan emosionalnya, sikap terbijak Anda
sebagai suami adalah diam, jangan membantah, pun jangan
menyalah-nyalahkannya. Anda dalam posisi pasif, dan Anda tak boleh
tinggalkan istri yang sedang marah. Kenapa?. Sebab istri akan menangis
jika aksi marahnya tanpa ‘penonton setia’ seperti Anda. Saksikan saja,
jangan menimpali kemarahannya sebab itu akan menambah durasi marahnya, jangan membuat tambahan waktu emosinya.
Sebab Anda adalah penyaksi yang tepat terhadap atraksi kemarahannya.
Kali ini ia tak sopan, tetapi yakinlah ada banyak momen tertentu, ia
sungguh sopan.
“Bersabarlah!”,
ungkap seluruh agama. Ya benar itu. Tunggulah sampai suhu emosinya
turun perlahan-lahan, dan terimalah ketika ia mulai mendekat dan
bermanja-manja sembari memelukmu, balaslah pelukannya dengan hati dingin
dan usaplah ubunnya. Ceileh…!
Rumitnya Wanita
Jika ia sedang
di puncak amarah, tiada status suami di matanya, suami seorang direktur
perusahaan, kepala tata usaha, menteri, gubernur, bupati, pedagang
asongan, tukang becak, sopir taksi, semua ini tiada berlaku baginya.
Jangan bawa status kepada istri yang sedang marah.
Sepi Tanpanya
Selanjutnya,
betapa sepinya dunia ini tanpa kemarahan seorang wanita, pasifnya bumi
ini tanpa kehadiran karakter-karakter wanita yang membuat para lelaki
untuk kreatif dalam berpikir, mengolah logika dan merawat relasi-relasi
emosional dengan sang istri. Hambarlah sebuah rumah tangga tanpa
kemarahan seorang istri. Ini aksiomanya. Dan bila ada seorang suami atau
istri berkata (di jaman ini) bahwa rumah tangganya sangat harmonis
tanpa cekcok sedikitpun, maka Anda wajib tak percaya. Sesungguhnya rumah
tangga semacam itu, telah lama ‘bubaran’ sebab tiada dinamisasi lagi,
di sana. Kehadiran wanita bukan untuk diuraikan, dijelaskan tetapi
dipahami seutuh-utuhnya. Dia memang rumit. Ia bukan makhluk praktis,
kerumitannya sangat sesuai dengan anatomi dan fisiologi tubuhnya.
Benarlah ucapan Brad ‘Archiles’ Pitt dalam film Troy-Yunani yang fenomenal nan melegenda: “Wanita selalu punya cara untuk merumitkan hidup”.
Ini ucapan inspiratif bagi semua suami dan pria bahwa kerumitan itu
sendiri membuat hidup Anda bergelora, dinamis dan kreatif^^^
Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar