Kenapa
harus meributkan anggota tubuh satu itu? Yang setengah mati
menyembunyikan miliknya mengaku supaya nggak dilihatin dan digoda cowok,
sementara yang satunya lagi justru ingin kelihatan lebih seksi. Size
matters!
Speaking
of size, rasanya semua laki-laki (heteroseksual) adalah pemuja
payudara, tak peduli angka berapa dan huruf apa yang tercantum di tag
bra perempuan. Apa yang membuat payudara istimewa di mata mereka?
Saat iseng-iseng melontarkan pertanyaan itu ke teman laki-laki saya, jawabannya sederhana: “I just love it.”
Sayangnya, jawaban sederhana itu sebetulnya punya penjelasan saintifik yang lebih panjang. Dan masuk di akal.
Adalah
Larry Young dan Brian Alexander, pakar neurocience terkemuka di bidang
social bonding, yang tahun 2012 silam mengungkapkan teori baru soal
keterkaitan laki-laki atas payudara ini.
Teori
lainnya datang dari argumen bahwa kebanyakan primata melakukan hubungan
seksual dengan posisi laki-laki di belakang (masih ingat bagaimana
berisiknya anjing saat melakukannya?), berbeda dengan manusia yang
umumnya melakukan ritual tersebut secara face-to-face. Itulah sebabnya,
payudara perempuan yang membesar dianggap sebagai upaya alami untuk
menyerupai bentuk pantat.
Baik
Young maupun Alexander menentang keras dua hipotesis tersebut. Menurut
mereka, jawaban paling tepat sebetulnya bisa dijelaskan oleh mekanisme
otak kita.
Manusia
adalah satu-satunya mamalia yang tergila-gila pada payudara dalam
konteks seksual, kata Young. Dan perempuan adalah satu-satunya female
mammals yang payudaranya membesar saat memasuki usia pubertas. Manusia
juga merupakan spesies satu-satunya yang melakukan hubungan seksual
dengan cara menstimulasi payudara.
Teori
Young dan Alexander yang merujuk pada mekanisme otak manusia untuk
menjelaskan mengapa laki-laki begitu menyukai payudara perempuan itu,
berkaitan sangat erat dengan proses yang terjadi antara ibu dan anak
ketika menyusui.
Ketika
puting perempuan distimulasi oleh bayi saat menyusui, zat kimia bernama
oksitosin (atau yang lazim dikenal sebagai love drug) ‘membanjiri’ otak
ibu, membuatnya memusatkan perhatian dan kasih sayangnya pada sang buah
hati. Rupanya, proses tersebut tidak berlaku eksklusif untuk memperkuat
jalinan emosional ibu dan anak saja.
Studi
menunjukkan, stimulai puting payudara meningkatkan sexual arousal pada
sebagian besar perempuan, and it activates the same brain areas as
vaginal and clitoral stimulation. Ketika pasangan menyentuh, memijat,
maupun menstimulasi buah dada, upaya ini juga menimbulkan pelepasan
oksitosin pada otak perempuan, just like what happens when a baby
nurses. Inilah yang mendorong perempuan memusatkan perhatian sekaligus
menguatkan hasratnya untuk memperkokoh ikatan dengan pasangan.
Dengan
kata lain, laki-laki dapat membuat diri mereka lebih diinginkan oleh
perempuan melalui proses stimulasi payudara. Dan evolusi memaksa
laki-laki untuk memahami dan menginginkan hal tersebut. The result? Men,
like babies, love breasts!
Kemudian, timbul pertanyaan: mengapa proses itu cuma terjadi pada manusia, and not in other breast-feeding mammals?
Menurut
Young, ini disebabkan oleh hubungan monogami yang dibentuk oleh
manusia, berkebalikan dengan 97 persen mamalia lainnya. Alasan kedua,
lanjut Young, mungkin ada kaitannya dengan kenyataan bahwa manusia
cenderung melakukan face-to-face sex yang memberikan peluang lebih bagi
manusia untuk aktivitas stimulasi puting payudara. So, maybe the nature
of our sexuality has allowed greater access to the breasts, ungkapnya.
Teori
Young and Alexander itu bukan tak berbuah blunder. Seorang antropolo
dari Rutgers University Fran Mascia-Lees yang telah menulis secara
serius mengenai perekembangan peran payudara, mengkritisi bahwa
sebenarnya ada laki-laki pada budaya-budaya tertentu yang tak tertarik
pada payudara. Di Afrika, misalnya, para perempuan yang bertelanjang
dada tidak membuat laki-laki terangsang.
Young
berargumen, meski pada budaya tersebut budaya bertelanjang dada adalah
lumrah, bukan berarti memijat dan menstimulasi payudara tidak menjadi
ritual foreplay di budaya itu. Dan hingga hari ini, belum banyak studi
yang menjelaskan hal itu dalam konteks antropologi.
Jadi, sekarang itu tidak benar-benar masuk akal bagi kita ya? :)
Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar